Apa itu NoSQL? Simak Penjelasan Lengkapnya!

Apa itu NoSQL?
NoSQL adalah singkatan dari Not Only SQL. Database management system ini bersifat tanpa relasi (non-relational). Artinya, NoSQL bisa mengelola database dengan skema yang fleksibel dan tidak membutuhkan query yang kompleks.

Dengan pendekatan ini, NoSQL mempunyai skalabilitas tinggi untuk dapat berkembang sesuai dengan kebutuhan data yang ada. Tak heran, database management ini dianggap paling cocok untuk mengolah big data yang selalu berubah-ubah sekalipun.

Berbagai perusahaan besar seperti Facebook dan Google juga memanfaatkan NoSQL pada bisnis mereka. Alasannya, NoSQL memiliki kemampuan untuk mendukung real-time web application yang dikembangkan.

Bagaimana database management ini bisa demikian bermanfaat? Hal itu karena ditunjang oleh pilihan berbagai jenis database yang bisa digunakan sesuai kebutuhan.

Jenis-Jenis Database NoSQL
Secara umum, database pada NoSQL dibedakan menjadi empat jenis, yaitu:

1. Key-value
Jenis database ini menyimpan database dalam pasangan key/value berbentuk tabel hash yang simpel. Jadi, cocok digunakan oleh Anda yang ingin menyimpan banyak data tanpa menggunakan query yang ribet saat hendak memprosesnya.

Pada key-value, setiap key-nya itu unik, sedangkan value-nya bisa berupa JSON, BLOB (Binary Large Objects), string, dan lain sebagainya. Sebagai contoh, Anda bisa melihatnya di bawah ini:

Beberapa database key-value yang populer adalah Redis, DynamoDB, dan Riak.

2. Column-based
Column-based (disebut juga dengan wide-column) merupakan jenis database NoSQL yang menyimpan data dalam bentuk kolom. Jadi, column-based sangat cocok untuk query SUM, COUNT, AVG, MIN, dan semacamnya..

Contoh NoSQL column-based bisa Anda lihat di bawah ini:

Kelebihan utama NoSQL column-based adalah fleksibilitas kolomnya. Setiap kolom tak terikat dengan kolom lainnya. Maka, Anda bebas mengubah kolom apapun tanpa mempengaruhi yang lain.

Beberapa database column-based yang populer adalah HBase, Cassandra, dan Hypertable.

3. Document-oriented
Jenis database ini menggunakan data yang berisi sepasang key dan value yang disimpan di dokumen dengan format JSON atau XML. Value disini bisa saja berupa string, angka, boolean, arrays, hingga object.

Supaya lebih jelas, berikut perbandingan document-oriented NoSQL dan relational SQL:

Bagi Anda yang akrab dengan JSON, Anda tentu melihat kemiripan struktur yang digunakan jenis NoSQL tersebut. Struktur itu berbeda dengan tabel relasional ala SQL yang mempunyai baris dan kolom.

Dengan pendekatan ini, Anda tak perlu tahu kolom-kolomnya terlebih dahulu seperti di SQL. Sangat fleksibel, kan? Tak heran, jenis database document-oriented ini kebanyakan digunakan untuk CMS, platform blogging, analisis real-time, dan aplikasi e-commerce.

Beberapa database document-oriented yang populer adalah Amazon SimpleDB, CouchDB, dan MongoDB.

4. Graph-based
Graph-based adalah jenis database NoSQL yang berfokus untuk menyimpan hubungan antar entitas. Entitas tersebut disimpan dalam bentuk node, sedangkan hubungan antar entitasnya disebut sebagai edge.

Berikut contoh NoSQL graph-based:

Graph-based ini sangat cocok dipakai jika Anda ingin menemukan pola yang saling berhubungan dalam data. Maka dari itu, jenis database ini umumnya digunakan untuk media sosial, mendeteksi penipuan, dan data spasial.

Beberapa database graph-based yang populer adalah Neo4J, JanusGraph, dan InfiniteGraph.

Kelebihan NoSQL
Berikut beberapa kelebihan NoSQL dibanding database relational:

1. Skalabilitas yang Lebih Mudah dan Murah
NoSQL mempermudah proses “scale out.” Metode skalabilitas ini memungkinkan Anda untuk menambahkan server cloud dan menyambungkannya ke cluster database dengan mudah.

Jadi, Anda tak harus membeli hardware baru yang lebih canggih dan lebih mahal untuk menangani lonjakan data. Cukup ramah di kantong, bukan?

2. Menyimpan Banyak Data tanpa Mengorbankan Performa
Tahukah Anda kalau NoSQL bisa menyimpan banyak data sekaligus tanpa mengorbankan performanya? Hal ini terjadi karena kemudahan untuk melakukan “scale out” kapan saja sesuai penjelasan kami sebelumnya.

Jadi, saat terjadi lonjakan data Anda bisa bebas menambahkan server untuk menampung beban tersebut secara merata. Inilah yang menjadi salah satu alasan banyak perusahaan besar menggunakannya.

3. Fleksibilitas Tinggi yang Mendukung Beberapa Jenis Database
NoSQL adalah manajemen database yang sangat fleksibel. Tidak hanya mendukung empat jenis database, NoSQL juga mampu menyimpan data unstructured, semi-structured, dan structured.

Artinya, Anda lebih leluasa dalam mengelola database, baik sesuai dengan kebutuhan maupun sesuai dengan data yang dimiliki.

Katakanlah, data Anda masih bervariasi dan terus berkembang, maka Anda tak perlu repot merancang skema tabel di awal selayaknya SQL.

4. Lebih Ramah untuk Developer
Mengelola database memang merupakan salah satu skill wajib developer. Meskipun pekerjaan tersebut tidak mudah, dengan bantuan NoSQL prosesnya bisa lebih simple. Kenapa? Berikut beberapa alasannya:

  • Anda tak perlu menulis query SQL yang semakin kompleks seiring bertambahnya data.
  • Data dalam NoSQL bisa berbentuk JSON atau XML yang tentunya lebih familiar untuk para developer.
  • Anda bisa menampilkan data dengan cepat tanpa harus membuat schema terus menerus.
  • Ada banyak database NoSQL yang bersifat open-source dan gratis. Sehingga, Anda bisa menghemat uang jika ingin mencoba kecocokannya terlebih dahulu.

Perbedaan SQL dan NoSQL
Berikut perbedaan antara SQL dan NoSQL yang bisa menjadi pertimbangan Anda sebelum menggunakannya:

PerbedaanSQLNoSQL
TipeRDBMS atau Relational DatabasesNon-relational database atau distributed database
FungsiUntuk mengolah data pada Online Analytical Processing (OLAP)Untuk mengolah data terkait aplikasi dan website modern yang semakin kompleks
Bahasa queryStructured query language (SQL)Tidak membutuhkan bahasa query yang terlalu kompleks
Struktur databaseBerbentuk tabelBisa berbentuk key-value, column, dokumen, dan graph
SchemaPerlu ditentukan dahuluSkema dinamis untuk data tak terstruktur
Jenis skalabilitasSkala vertikal atau scale up dengan membeli hardware baru.Skala horizontal atau scale out dengan menambah server.
Contoh databaseMySQL, Postgres, MS-SQLRedis, Neo4j, MongoDB